
Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah (HR.At Tirmidzi dan Ahmad)
Rumah zakat melakukan ekspedisi sebar Al-Quran di pedalam Papua Barat. Tepatnya di Distrik Kamundan, Kab. Teluk Bintuni yang dihuni 1.194 Jiwa (Laki-laki 608 jiwa dan Perempuan 586 jiwa) yang tersebar di 5 Desa dengan mayoritas semuanya beragama Islam.

Total 150 Al-Qur’an dan 200 Iqro dibagikan kepada masyarakat di sana. Ada Al-Quran berukuran besar untuk Lansia dan Iqro 1 sampai 6 untuk anak-anak membaca Al-Qur’an.
Ustadz Abdulmutalib, warga sekaligus pengurus masjid Babusallam yang merupakan masjid satu-satunya di distrik Kamundan merasa bersyukur dengan adanya bantuan Al-Quran dan Iqro dari Rumah zakat.

“Alhamdulillah kami sangat bersyukur dengan adanya bantuan Al-Quran dari Rumah zakat karena Al-Qur’an terutama Al-quran untuk lansia yang memudahkan warga membaca dengan jelas dan anak-anak yang ingin bisa membaca Al-Quran bisa terbantu dengan adanya Iqro 1 sampai 6 ini,” ucapnya.
Ustadz Abdulmutalib juga bercerita mengenai kurangnya tenaga pengajar untuk anak-anak belajar membaca Al-Quran. Karena sejauh ini hanya dirinya dan beberapa orang yang secara sukarela mengajar membaca Al-Qur’an kepada anak-anak di sana.

Saat proses pembagian anak-anak begitu antusias. Senyum manis terpancar dari wajah mereka ketika satu orang menerima Iqro maupun Al-Quran dari tim Rumah zakat.
Sama halnya dengan yang tim kami temukan di Desa Watohari, Pulau Solor, NTT.
Harapan Ustadz Muslahuddin turut diamini oleh 86 santri dhuafa penghapal Qur’an di Desa Watohari, Pulau Solor, NTT. Tingginya minat membaca Al-Qur’an dan dukungan warga sekitar membuat Ustadz Muslahuddin berani memiliki harapan tersebut. Apalagi, syiar Islam telah terang benderang di sana.

Alhamdulillah, salah satu warga telah mewakafkan tanahnya seluas 2 hektar untuk pembangunan pondok tahfidz. Nantinya siapa pun boleh belajar Al-Qur’an di sini, khususnya bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan biaya.

Namun untuk saat ini, para santri harus berdesakan menghapal Al-Qur’an di sebuah saung sederhana. Di tengah terik matahari, mereka tetap khusyuk melantunkan kalam-kalam Allah. Al-Qur’an dan kitab yang mereka pakai pun sudah lusuh, robek, bahkan tanpa penutup

Keterbatasan itu tak menghalangi langkah Firman, salah satu santri untuk tetap mengaji. Ia memiliki mimpi untuk membahagiakan kedua orangtuanya di hadapan Allah SWT.
Masih banyak umat Islam di pedalaman yang membutuhkan fasilitas yang layak dan memadai seperti Alquran dan Iqra serta Guru ngaji yang bisa mengajarkan mereka membaca alquran sehingga donasi yang diberikan benar-benar bermanfaat.
Mari wujudkan mimpi para penghafal Al-Quran untuk mendapatkan fasilitas yang baik dengan cara Menyalurkan bantuan donasi




